Pengaruh Lama Pemanasan terhadap Karakteristik Kimia Keripik Tulang Lele
DOI:
https://doi.org/10.35316/jsapi.v16i2.8170Kata Kunci:
Tulang lele, Keripik tulang, Karakteristik kimia, Pemanasan presto, Limbah perikananAbstrak
Pengolahan ikan lele (Clarias sp.) baik secara modern maupun tradisional dapat meningkatkan nilai tambah dan memperpanjang masa simpan produk, namun menghasilkan limbah tulang yang berpotensi mencemari lingkungan. Pemanfaatan limbah tulang lele menjadi keripik merupakan inovasi pengolahan limbah untuk menghasilkan camilan bergizi tinggi yang mengandung protein, karbohidrat, dan kalsium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pemanasan terhadap karakteristik kimia keripik tulang lele serta menentukan formulasi terbaik berdasarkan analisis proksimat. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan perlakuan lama pemanasan presto 20, 25, dan 30 menit. Parameter yang diamati meliputi kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat. Hasil menunjukkan bahwa lama pemanasan berpengaruh nyata terhadap semua parameter. Pemanasan 30 menit menghasilkan kadar air 4,51%, abu 6,96%, lemak 47,04%, protein 14,38%, dan karbohidrat 27,11%. Berdasarkan analisis Bayes, perlakuan 30 menit merupakan formulasi terbaik dengan karakteristik kimia paling stabil dan nilai gizi optimal. Pemanfaatan limbah tulang lele sebagai keripik tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk, tetapi juga mendukung pengelolaan limbah perikanan secara berkelanjutan
Unduhan
Referensi
Afrianto, E., & Livianti, R. (2012). Teknologi Pengolahan Ikan dan Hasil Perikanan. Bandung: Alfabeta.
AOAC. (2005). Official Methods of Analysis of the Association of Official Analytical Chemists (18th ed.). Washington DC: AOAC International.
Gaspersz, V. (1991). Metode Perancangan Percobaan. Bandung: Tarsito.
Lestari, E., & Wulandari, S. (2017). Pengaruh proses pemasakan terhadap kualitas produk olahan ikan. Jurnal Teknologi Hasil Perikanan Indonesia, 20(1), 23–30.
Nurjanah, N., Nurhayati, T., & Hidayat, T. (2013). Potensi ikan air tawar sebagai bahan baku produk olahan bernilai tambah. Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan, 5(2), 87–94.
Santoso, B., Yuliana, N., & Setyowati, R. (2014). Kandungan kalsium dan fosfor pada tulang ikan air tawar. Jurnal Pangan dan Gizi, 6(3), 45–52.
Sari, R., Mulyani, E., & Nugroho, H. (2016). Analisis kandungan mineral pada limbah tulang ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 19(2), 110–118.
Suryaningrum, D., Handayani, M., & Anwar, C. (2010). Komposisi kimia dan nilai gizi ikan lele dumbo. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 21(1), 1-6.
Widyaningsih, S., Nurhayati, A., & Wulandari, S. (2018). Pengaruh lama pemanasan terhadap karakteristik kimia produk olahan hasil perikanan. Jurnal Sains dan Teknologi Pangan, 3(1), 34–40.
Winarno, F. G. (2008). Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama..
Harborne, J. B. 1987. Fitokimia. Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. ITB. Bnadung.
Unduhan
Diterbitkan
Versi
- 2025-10-20 (2)
- 2025-10-20 (1)
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Ika Junianingsih, Ulfatul Mardiyah, Ismi Jazila

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.







