Evaluasi Penggunaan Obat Hipertensi pada Pasien Lansia di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung

Authors

  • Ellen Zaquelline Karunia Sari Situmorang Program Studi Farmasi, Universitas Advent Indonesia, Bandung, Indonesia
  • Duma Turu Allo Program Studi Farmasi, Universitas Advent Indonesia, Bandung, Indonesia
  • Titin Sulastri Program Studi Biologi, Universitas Advent Indonesia, Bandung, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.35316/tinctura.v7i1.8250

Keywords:

Antihipertensi, Lansia, Calcium Channel Blocker, Efektivitas

Abstract

Penuaan membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit yang mengurangi fungsi organ, seperti hipertensi. Hal ini menjadi tantangan besar dalam memberikan pengobatan bagi lansia karena adanya risiko interaksi antar obat dan kondisi penyakit lain yang menyertainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi cara penggunaan dan tingkat keberhasilan pengobatan hipertensi pada pasien lansia di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung pada bulan April hingga Juni 2025. Penelitian menggunakan data yang didapat dari 103 catatan medis pasien. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien adalah perempuan (64,08%) dengan usia pra-lanjut (60–69 tahun; 54,9%). Obat yang sering digunakan adalah Calcium Channel Blocker (CCB), yaitu sekitar 43,1%. Obat yang paling sering diresepkan adalah Amlodipin dengan dosis 10 mg dan 5 mg. Dalam hal efektivitas, sebagian besar pasien (65–70%) menunjukkan respons baik terhadap pengobatan, terutama pada kasus hipertensi yang membutuhkan penanganan segera. Penuaan membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit yang berkembang perlahan, seperti hipertensi, yang sering terjadi pada orang tua. Faktor seperti interaksi obat dan adanya penyakit lain membuat pemilihan pengobatan menjadi lebih sulit. Penelitian ini mengulas penggunaan dan khasiat obat antihipertensi pada 103 pasien tua di sebuah rumah sakit swasta di Kota Bandung, dari bulan April hingga Juni 2025. Sebagian besar pasien adalah perempuan (64,08%) dan berusia 60–69 tahun (54,9%). Obat yang paling sering digunakan adalah Calcium Channel Blocker (CCB), khususnya Amlodipin dalam dosis 10 mg dan 5 mg. Hasil penelitian menunjukkan sekitar 65–70% pasien merespons pengobatan dengan baik, terutama bagi yang tidak memiliki kondisi berat. Namun, sekitar 30–35% pasien tidak merasa ada perbaikan, terutama yang juga menderita penyakit lain seperti gagal jantung, stroke, atau masalah ginjal. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas pengobatan antihipertensi sangat tergantung pada kondisi kesehatan pasien. Kesimpulannya, penggunaan obat antihipertensi di rumah sakit ini sudah sesuai dengan standar yang berlaku, tetapi diperlukan pengecekan rutin, pemantauan tekanan darah, dan penyesuaian pengobatan agar hasilnya lebih baik, terutama untuk pasien lansia yang memiliki kondisi penyerta kompleks.

Author Biographies

Duma Turu Allo, Program Studi Farmasi, Universitas Advent Indonesia, Bandung, Indonesia

Dosen Farmasi S1 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Titin Sulastri, Program Studi Biologi, Universitas Advent Indonesia, Bandung, Indonesia

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Advent Indonesia

Downloads

Published

2025-12-01 — Updated on 2025-12-07

Versions

How to Cite

Situmorang, E. Z. K. S., Turu Allo, D., & Sulastri, T. (2025). Evaluasi Penggunaan Obat Hipertensi pada Pasien Lansia di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung. Jurnal Farmasi Tinctura, 7(1), 92–99. https://doi.org/10.35316/tinctura.v7i1.8250 (Original work published December 1, 2025)