Perbandingan Hemoglobin Pasien Gagal Ginjal Kronik Di RSUD Provinsi NTB
DOI:
https://doi.org/10.35316/tinctura.v7i1.7950Keywords:
Gagal Ginjal Kronik, Hemodialisa, HemoglobinAbstract
Penurunan kinerja ginjal yang berkelanjutan yang disebabkan oleh kerusakan struktur ginjal dan fibrosis interstisial dikenal sebagai gagal ginjal kronik. Defisiensi eritropoietin, yang bertanggung jawab atas pembentukan eritrosit, menyebabkan kerusakan ginjal, yang meningkatkan risiko anemia. Tujuan penelitian yaitu membandingkan hemoglobin sebelum dan sesudah hemodialisa dan terapi tambahan untuk meningkatkan hemoglobin pasien gagal ginjal kronik di RSUD Provinsi NTB serta mengevaluasi efektivitas hemodialisa dan terapi tambahan. Metode kuantitatif komparatif dengan cross-sectional yang digunakan. Data dikumpulkan secara retrospektif dan dianalisis menggunakan SPSS dengan p-value <0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hemoglobin sebelum dan sesudah hemodialisa berbeda; terapi tambahan PRC memiliki hasil rata-rata 1,8 g/dl, PRC dengan asam folat 3,8 g/dl, dan PRC dengan eritropoietin 4 g/dl, masing-masing dengan p<0,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa PRC dengan eritropoietin memiliki hemoglobin terendah, dengan peningkatan hemoglobin rata-rata 1,8 g/dl, dan PRC dengan hemoglobin tertinggi, dengan peningkatan hemoglobin rata-rata 4 g/dl. Oleh karena itu, hemoglobin pasien gagal ginjal kronik RSUD Provinsi NTB meningkat setelah hemodialisa dan terapi tambahan, dengan PRC dan eritropoietin yang paling efektif.
Downloads
Published
Versions
- 2025-12-07 (2)
- 2025-12-01 (1)
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 hafizaturrahmah, Burhanudin Gasim Soka, Udrika Lailatul Qodri

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.





